Sudah puluhan tahun dunia mengenal organisasi kepemudaan bernama kepanduan, sementara di Indonesia lebih dikenal sebagai Gerakan Pramuka. Bermacam kegiatan maupun aktivitas bermanfaat yang dimiliki organisasi ini seringkali memunculkan rasa ingin tahu banyak orang mengenai apa sebenarnya gerakan pramuka itu, dari mana asal muasalnya, dan bagaimana pembentukannya di Indonesia sehingga bisa tetap lestari hingga saat ini. Melalui tulisan ini, kami mencoba menceritakannya secara singkat agar mudah dipahami oleh semua kalangan. Tentu saja dengan berpedoman pada sumber berkompeten.

Kita mengenal Pramuka dari sejak duduk di bangku sekolah, karena organisasi tersebut menjadi salah satu kegiatan ekstrakurikuler sekolah, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Setiap anggota Pramuka wajib mengenakan baju seragam berwarna cokelat muda dan cokelat tua dengan model yang berbeda antara peserta laki-laki dan perempuan. Mengapa warna yang dipilih adalah cokelat? Sebab warna tersebut dianggap sebagai salah satu warna yang digunakan para pejuang Indonesia ketika masa perang kemerdekaan.

Untuk melengkapi seragam yang menjadi identitas bagi anggotanya, terdapat juga berbagai atribut mulai dari  kacu (dasi) merah putih, ikat pinggang yang lengkap dengan tali tambang dan pisau, pluit yang terpasang pada anyaman tambang berwarna sesuai tingkatan, serta bermacam bedge di baju. Untuk penutup kepala, bentuk topi yang juga berwarna cokelat pun bermacam-macam, sedangkan sepatu dan kaos kaki berwarna hitam. Seluruh atribut itu diperlukan guna menunjang seluruh kegiatan yang dilakukan serta untuk menunjukkan tingkat atau level keanggotaan. Meski sekarang ini model dan variasi seragam pramuka sudah bermacam-macam, namun tetap tidak menghilangkan ciri khas identitas organisasi tersebut.

Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk yang menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, dan praktis, yang dilakukan di alam terbuka. Sebagai sistem pendidikan kepanduan yang telah disesuaikan dengan keadaan dan perkembangan masyarakat dan bangsa Indonesia, pramuka memiliki prinsip dasar serta metode yang bertujuan membentuk watak, akhlak dan budi pekerti luhur.

Pramuka merupakan singkatan dari Praja Muda Karana yang memiliki arti Jiwa Muda yang Suka Berkarya. Gerakan Pramuka atau Kepanduan di Indonesia dimulai sejak tahun 1923 yang ditandai dengan didirikannya Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung. Sedangkan di Jakarta didirikan Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO). Kedua organisasi cikal bakal kepanduan di Indonesia tersebut kemudian meleburkan diri menjadi satu bernama Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) di Bandung pada tahun 1926.

Jika melihat dari asal muasal gerakan pramuka, siapa yang menyangka kalau pencetus gagasan berdirinya organisasi ini adalah seorang jenderal angkatan bersenjata Inggris. Robert Baden-Powell menggagas gerakan ini hingga menuangkannya dalam buku-buku yang ditulisnya. Salah satu buku yang berjudul Scouting for Boys saat ini dikenal sebagai buku panduan kepramukaan (Boy Scout Handbook) edisi pertama. Buku tersebut ditulis berdasarkan seluruh pemikirannya mengenai gerakan kepanduan yang juga telah diuji dalam perkemahan kepanduan pertama (dikenal sebagai jamboree) di Kepulauan Brownsea, Inggris pada tahun 1907.

Lord Baden-Powell, Bapak Pandu Sedunia. (YouTube-Allehub Entertainment)

Sementara ide gerakan kepanduan sendiri muncul ketika Powell dan pasukannya berjuang mempertahankan kota Mafeking, Afrika Selatan dari serangan tentara Boer. Saat itu pasukannya kalah dan sekelompok pemuda dibentuk dan dilatih untuk menjadi tentara sukarela. Mereka mendapat tugas-tugas ringan namun penting seperti mengantarkan pesan yang diberikan Powell ke seluruh anggota militer di kota tersebut. Pekerjaan tersebut dapat terselesaikan dengan baik sehingga pasukan Baden-Powell dapat mempertahankan kota Mafeking. Sebagai penghargaan atas keberhasilan para tentara sukarela, mereka dianugerahi sebuah lencana yang kemudian gambarnya digunakan sebagai logo gerakan pramuka internasional.

Berangkat dari keberhasilannya mempertahankan kota Mafeking itulah, Baden-Powell kemudian menulis buku-bukunya yang mempromosikan gagasan mengenai gerakan kepanduan. Ia pun mendapat dukungan dan bantuan dari sejumlah tokoh, salah satunya adalah Frederick Russel Burnham, orang Amerika yang membantu Inggris di Afrika Selatan. Burnham banyak belajar teknik hidup di alam bebas dari ayahnya yang menjadi pastor di tempat penampungan orang Indian.  Bagi Baden-Powell, Burnham yang dikenalnya dalam Perang Boer adalah sumber inspirasinya. Dari Burnham, Powell menyusun berbagai keterampilan dasar yang diperlukan seorang Boy Scout (pandu).

Di Indonesia, Pramuka telah disahkan melalui Undang-Undang sebagai organisasi penyelenggara pendidikan kepramukaan atau kepanduan. Tapi kini Pramuka bukan lagi menjadi satu-satunya organisasi yang boleh menyelenggarakan pendidikan kepramukaan, karena organisasi profesi juga sudah diperbolehkan menggelar kegiatan serupa.

Keanggotaan pramuka meliputi berbagai tingkatan, yakni : 

– Pramuka Siaga (7-10 tahun)

– Pramuka Penggalang (11-15 tahun)

– Pramuka Penegak (16-20 tahun)

– Pramuka Pandega (21-25 tahun)

Setiap anggota Pramuka biasanya harus mengikuti kegiatan perkemahan, untuk bisa naik tingkatan. Dalam kegiatan perkemahan tersebut, anggota Pramuka akan menjalani rangkaian test dan ujian tertentu.

Belajar dari tujuan Baden Powel menggagas dan mengembangkan gerakan pramuka yaitu membentuk karakter pemuda menjadi seorang yang memiliki kekuatan , berpengetahuan luas, berwatak kesatria, mampu menyelamatkan hidup dan mencintai tanah airnya, maka diharapkan organisasi kepramukaan di Indonesia pun dapat mencetak generasi muda yang berkualitas. Pemuda yang mandiri dan bisa menjadi penerus cita-cita bangsa di masa depan.

*) dari berbagai sumber


Untuk keterangan dan informasi lebih lanjut hubungi kami.


Leave a Reply

Your email address will not be published.