Seseorang yang memiliki ilmu yang tinggi tidak akan ada nilainya tanpa adanya moral yang tertanam dalam dirinya. Bahkan akan mudah disetir atau dikendalikan oleh orang lain. Untuk itu penanaman pendidikan karakter perlu ditanamkan mulai sejak dini. Pendidikan karakter dimulai dari dalam keluarga, yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak. Setelah keluarga, di dunia pendidikan karakter ini sudah harus menjadi ajaran wajib sejak sekolah dasar.

Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Tujuannya adalah membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik.

Pendidikan yang diterapkan di sekolah-sekolah juga menuntut untuk memaksimalkan kecakapan dan kemampuan berfikir. Dengan pemahaman seperti itu, sebenarnya ada hal lain dari anak yang tak kalah penting yang tanpa kita sadari telah terabaikan. Yaitu memberikan pendidikan karakter pada anak didik. Pendidikan karakter penting artinya sebagai penyeimbang kecakapan kognitif (kemampuan berfikir).

Melihat kondisi pada saat ini banyak kita jumpai bahwa seorang pengusaha kaya raya justru tidak dermawan, seorang politikus malah tidak peduli pada tetangganya yang kelaparan, atau seorang guru justru tidak prihatin melihat anak-anak jalanan yang tidak mendapatkan kesempatan belajar di sekolah. Generasi muda saat ini serperti semakin menjauh dari nilai-nilai Pancasila dan kehilangan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia.  Ini bisa jadi bukti dari tidak adanya keseimbangan antara pendidikan kognitif (kemampuan berfikir) dan pendidikan karakter.

Penanaman pendidikan karakter melalui Sosialisasi Nasionalisme Indonesia (SNI) diharapkan mampu mengubah sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan peserta didik agar mampu berinteraksi dengan lingkungan masyarakat sesuai dengan nilai moral dan kebudayaan masyarakat setempat. Ada beberapa hal yang melatar-belakangi kemerosotan moral bangsa Indonesia dan hal itu perlu diketahui sehingga kita mampu menemukan solusi yang terbaik dan membantu dalam penyelesaian masalah tersebut.

Dalam kegiatan workshop kebangsaan atau Sosialisasi Nasionalisme Indonesia (SNI) dengan memperkenalkan sejarah nasional Indonesia kepada generasi muda, khususnya anak-anak sekolah. Dengan menghadirkan pembicara profesionalisme atau narasumber serta para saksi sejarah, workshop mampu menarik perhatian anak dan mendapat respon positif dalam memahami sejarah bangsa Indonesia.

Kegiatan workshop tersebut membahas tentang sejarah perjuangan bangsa, mulai dari jaman kolonialisme yang pernah berkuasa di negara Indonesia sampai di proklamasikannya kemerdekaan. Selain itu, disampaikan juga apa saja makna atau nilai-nilai yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945. Sebagai bangsa yang sudah memproklamasikan kemerdekaan diharapkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mengamalkan nilai yang terkandung dalam Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI. Serta memajukan bangsa dan negara baik dari segi pendidikan, politik, ekonomi, dan budaya.

Workshop Sosialisasi Nasionalisme Indonesia (SNI) berlangsung dengan khidmat, terlihat pada antusias anak-anak dalam mengikuti kegiatan ini, serta keaktifan mereka dalam berinteraksi dengan pembicara. Dalam setiap jeda siswa dan siswi dari Home School Tunas Bangsa menyanyikan lagu-lagu perjuangan dengan diiringi alat musik tradisional angklung.

Selain pemateri yang profesional, dalam workshop Sosialisme Nasionalisme Indonesia (SNI) ada juga Mayor (Purnawirawan) Margono Pejuang Veteran  yang menyampaikan beberapa pesan kepada peserta workshop Sosialisme Nasionalisme Indonesia (SNI). Beliau adalah pelaku dan saksi sejarah serta menjadi tentara pelajar saat pra kemerdekaan Indonesia. Beliau menyampaikan pesan-pesan  agar para generasi muda Indonesia menjadi lebih baik dan tentu saja dapat menjadi penerus bangsa yang mempunyai kemauan, kemampuan dan kesolidan dalam memimpin bangsa dan negara ini nantinya. Selain itu, supaya generasi muda tidak terpengaruh dengan budaya-budaya dari negara lain yang berdampak negatif.

Harapan dari penyelenggraan workshop Sosialisasi Nasionalisme Indonesia (SNI)  adalah menanamankan nilai-nilai sejarah kebangsaan kepada generasi muda karena dengan tertanamnya nilai-nilai kebangsaan yang secara dinamik terwujud dalam semangat kebangsaan dapat menggerakkan perjuangan negara Indonesia menuju cita-cita bangsa, memperkuat nilai-nilai kebangsaan serta,  memperkuat jati diri sebagai bangsa Indonesia sehingga tidak mudah terpengaruh dengan arus globalisasi yang saat ini terjadi di Indonesia.

Bung Karno“JAS MERAH”, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah, demikian diucapkan Bung Karno dalam pidatonya yang terakhir pada HUT RI tanggal 17 Agustus 1966.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *