Menurut hemat saya amat penting bagi kita masyarakat Indonesia untuk setidaknya pada setiap tanggal 1 Juni ini untuk kembali membaca ulang isi dari pada pidato yang disampaikan Bung Karno pada 1 Juni 1945 di hadapan sidang BPUPKI yang merupakan satu moment sangat berpengaruh besar bagi jalannya sejarah peradaban bangsa Indonesia.

Pentingnya membaca ulang isi Pidato Bung Karno yang oleh kita sekarang ini diberi judul “Lahirnya Pancasila” adalah agar senantiasa terjaga dalam ingatan kita akan dari mana bangsa ini bermula; semangat apa yang menjadi sebab lahirnya bangsa yang bernama Indonesia ini dan dasar-dasar nilai apa yang dalam tekad bulat kita sejak awal hendak kita letakan untuk menjadi dasar bagi Negara Indonesia Merdeka.

Pada pidatonya, yang pokok intisarinya adalah memaparkan prinsip-prinsip yang hendak dijadikan sebagai dasar dari pada Negara Indonesia Merdeka itu, Bung Karno mengawalinya dengan memastikan kesiapan tekad bangsa Indonesia terutama sekali para tokoh yang hadir dalam sidang tersebut untuk menyongsong kemerdekaan dengan penuh keberanian. Dari apa yang disampaikan Bung Karno pada pidatonya itu kita melihat bahwa di saat kemerdekaan Indonesia yang telah kita cita-citakan sejak lama itu telah nampak di depan mata, justru tidak sedikit dari kita pada waktu itu malah menjadi gentar hati dan nampak kehilangan kepercayaan diri untuk merdeka.

Nampak dalam pidatonya Bung Karno sangat menekankan kepada para tokoh bangsa yang dipundaknyalah digantungkan nasib bangsa indonesia ini untuk benar-benar memantapkan diri menerima tantangan yang disodorkan oleh Sang Penggenggam Takdir untuk membawa rakyat Indonesia yang 70 juta jiwa itu kepada haknya untuk berdiri sebagai sebuah bangsa yang merdeka. Paparan cerdas Bung Karno yang mengulas contoh sejarah dari pada bangsa-bangsa dunia yang telah gagah berani menjemput takdirnya untuk merdeka dapat kita rasakan mempunyai daya yang kuat untuk menyingkirkan awan gelap yang menutupi keberanian para tokoh bangsa pada waktu itu.

Sebelum paparannya tentang dasar-dasar bagi Negara Indonesia Merdeka disampaikannya, Bung Karno juga terlebih dulu memastikan kesamaan paham dan pandangan semua tokoh yang hadir dalam persidangan tersebut bahwa dasar bagi negara Indonesia merdeka yang hendak kita adakan bersama-sama melalui sidang BPUPKI tersebut haruslah merupakan dasar yang dapat mempersatukan seluruh bangsa Indonesia; haruslah merupakan dasar yang dapat disepakati oleh tiap-tiap golongan dalam bangsa ini; haruslah merupakan dasar yang terlahir dari semangat kemerdekaan semua buat semua. Tegas Bung Karno menyampaikan bahwa negara Indonesia merdeka bukanlah untuk satu orang, bukanlah untuk satu golongan tetapi semua buat semua.

Ini tentu tidak lepas dari pada semangat perjuangan bangsa Indonesia sejak mula-mula dan tidak lepas dari semangat persatuan dan kesetaran yang telah terpatri dengan kuat ketika kita mengikrakan diri untuk menjadi satu bangsa pada 28 Oktober 1928. Jadi memang sedari awal terbentuknya bangsa ini, tekad perjuangan kemerdekaan kita adalah untuk keseluruhan Indonesia. Untuk Indonesia Raya. Bukan untuk satu kelompok atau golongan saja. Dan sedari awal semangat persatuan yang kita jadikan pengikat bangsa kita ini adalah semangat persatuan bulat mutlak yang tidak mengecualikan satu golongan dan lapisan pun dari bangsa ini.

Setelah merasa yakin atas daya dan argumentasi yang dipaparkannya dihadapan para tokoh bangsa dalam sidang BPUPKI tersebut berdampak kuat terhadap kebulatan tekad untuk merdeka serta terhadap keinsafan bahwa bahwa negara Indonesia merdeka yang hendak didirikan haruslah bersih daripada egoism kelompok dan golongan, barulah Bung Karno dalam pidatonya itu memaparkan lima dasar yang beliau beri nama dengan Pancasila.

Dasar-dasar yang Bung Karno ajukan melalui pidatonya di sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945 itu memang dalam narasi dan urutan nampak berbeda dengan narasi dan urutan sebagaimana yang kita kenal hari ini. Dalam pidatonya Bung Karno mengajukan dasar-dasar yang hendak dijadikan sebagai dasar dari pada negara Indonesia merdeka itu adalah:

  1. Kebangsaan Indonesia.
  2. Internasionalisme, – atau peri-kemanusiaan.
  3. Mufakat, – atau demokrasi.
  4. Kesejahteraan sosial.
  5. Ketuhanan Yang Maha Esa

Namun dari pidato Bung Karno itu pula kita tahu bahwa paparan dasar-dasar yang bung Karno sampai pada waktu itu adalah lebih menekankan kepada subtansi dan bukan kepada keindahan narasi dan urutan. Karenanya kita tahu persis bahwa Pancasila yang kita jadikan dasar negara pada saat ini, meski nampak beda dalam narasi dan urutannya, tapi itulah dasar-dasar yang persis sama secara subtansi sebagaimana disampaikan Bung Karno pada waktu itu.

Mengenai Pancasila ini, dalam kesempatan yang lain Bung Karno pernah juga menyampaikan: “tekanan kata memang kuletakan kepada daya pemersatu daripada Pancasila itu” Jadi dengan ini kita menjadi mengerti dan paham alasan yang mendasari Bung Karno menempatkan kebangsaan pada urutan pertama. Sebab memang dasar kebangsaan itulah dasar yang paling kuat untuk mempersatukan bangsa Indonesia yang beragam suku, ras, agama dan golongannya ini. Dan bahkan ketika kesukuan, ras, golongan dan bahkan agama membuat kita terpecah belah, dasar kebangsaan inilah yang kemudian mengikat dan mempersatukan kita sebagai satu bangsa dan menghilangkan sekat-sekat kesukuan, ras, golongan dan agama.

Kebangsaan yang dalam pidatonya tersebut Bung Karno lebih menekankan pada kesatuan orang dan bumi Indonesia yang terbentang dari tanah Sumatera sampai tanah Irian itulah realitas paling nyata yang dapat kita pakai untuk menjadi dasar untuk mendirikan negara Indonesia merdeka. Menurut Bung Karno, bukan saja kesamaan perangai, nasib dan kehendak yang menjadi syarat bagi kita untuk menjadi satu bangsa, alasan yang lebih kuat dari itu justru adalah alasan geopolitik. Kesatuan tanah air; kesatuan tumpah darah adalah dasar yang nyata yang telah menempatkan kita dalam takdir sebagai sudara sebangsa. Oleh karena itulah maka hendaknya negara Indonesia merdeka yang hendak kita dirikan itu haruslah merupakan negara kebangsaan dan bukan negara kesukuan, kedaerahan atau keagamaan.

Namun dari pada itu, menurut Bung Karno dasar kebangsaan yang dimaksudnya bukanlah dasar kebangsaan yang sempit sebagaimana chauvinisme-nya bangsa Jermania. Dasar kebangsaan semacam itu sangat berbahaya. Sebab dapat menjebak kita pada rasa bangga berlebihan terhadap bangsa kita sendiri dan kemudian merendahkan bangsa lain. Dasar kebangsaan yang kita maksud justru adalah dasar kebangsaan yang mengarah kepada persaudaraan bangsa-bangsa. Dan karena itulah Bung Karno menawarkan internasionalisme atau perikemanusiaan sebagai dasar yang kedua bagi negara Indonesia merdeka.

Bung Karno paham betul bahwa pada hakekatnya manusia adalah umat yang satu. Dan segala bentuk perpecahan kecil atau pun besar adalah hal yang terlarang dalam peradaban umat manusia. Karena itu dasar kebangsaan atau nasionalisme ini haruslah dibungkus oleh dasar internasionalisme. Dimana sebagai sebuah bangsa kita diikat kuat oleh dasar kebangsaan kita, namun di sisi yang lain kita juga sadar betul bahwa kita adalah bagian dari warga dunia. Bagian dari umat manusia dan kemanusiaan. Dan di atas dasar internasionalime itulah kita membangun hubungan dan persaudaraan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Nasionalisme dan Internasionalisme adalah dua hal yang harus bergandengan erat dan tak boleh dipisahkan. Dalam pidatonya Bung Karno menyebut: Internasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak berakar di dalam buminya nasionalisme. Nasionalisme tidak dapat hidup subur, kalau tidak hidup dalam taman-sarinya internasionalisme.” Jadi, tetap target besarnya adalah persaudaaran umat manusia. Persaudaraan bangsa-bangsa. Namun untuk dapat sampai ke sana setiap bangsa haruslah diberi kemerdekaan untuk berdiri di atas dasar kebangsaannya masing-masing.

Kemudian mengenai dasar yang ketiga, yaitu dasar mufakat atau demokrasi, dari penjelasan Bung Karno kita menangkap bahwa hal ini merupakan konsekuensi logis dari pada negara Indonesia merdeka yang didirikan di atas dasar kebangsaan. Negara Indonesia yang di dalamnya diisi oleh beragam golongan dan lapisan haruslah dapat merangkul dan mengakomodir semua golongan dan lapisan. Setiap golongan berhak untuk memperjuangkan idealisme yang mereka percayai melalui permusyawaratan perwakilan dalam Dewan Perwakilan Rakyat.

Melalui mekanisme permusyawaratan perwakilan inlah bangsa Indonesia dipandang akan menjadi bangsa yang benar-benar hidup dan tumbuh. Bung Karno menilai tumbukan-tumbukan antar ide dari beragam kelompok dan golongan memang perlu terjadi karena dari situlah justru akan lahir ide-ide yang cemerlang. Namun demikian tentu saja hal tersebut mesti diatur dalam sebuah mekanisme permusyawaratan perwakilan yang adil. Setiap orang dan golongan harus didudukan dalam kesetaraan. Tidak ada satu golongan pun yang boleh meninggikan dirinya di atas golongan yang lain.

Dan bukan saja hanya persamaan hak atas rakyat di lapangan politik sebagaimana diadakan melalui dasar mufakat atau demokrasi tersebut tetapi juga harus adanya persamaan hak bagi rakyat di lapangan ekonomi. Tentu menjadi percuma saja jika secara poitik rakyat Indonesia mendapatkan ruang yang baik namun lapangan ekonomi hanya dikuasai oleh kaum kapitalis dan orang-orang kaya saja. Karena itu dasar yang keempat yang ditawarkan Bung Karno adalah kesejahteraan sosial. Dasar ini disebut sebagai prinsip “tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia merdeka.

Tujuan akhir dari pada kita mendirikan negara tentu saja adalah memang untuk memastikan tercapainya kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bung Karno juga pernah berkata bahwa tujuan dari pada perjuangan kita bukan hanya sekedar mengusir penjajah dari bumi Indonesia tapi mensejahterakan rakyat. Sebab tentu percuma jika kita merdeka tapi kita tetap saja miskin dan menderita. Dan memastikan terwujudnya keadilan di lapangan ekonomi adalah keharusan bagi tercapainya kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kemudian dasar yang kelima yang Bung Karno tawarkan adalah Ketuhanan Yang Maha Esa yang dalam pidatonya Bung Karno mengatakan: “Prinsip yang kelima hendaknya: menyusun Indonesia merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Bung karno berharap negara Indonesia ini menjadi negara dimana tiap-tiap orang dapat menyembah Tuhannya dengan leluasa. Tidak boleh ada egoisme agama dan tiap-tiap orang harus dapat saling menghormati satu sama lain. Itulah Ketuhanan yang berkebudayaan atau Ketuhanan yang berkeadaban dalam istilah Bung Karno. Dan tiap-tiap orang juga hendaknya menjalankan agamanya masing-masing dengan baik sesuai dengan apa yang diajarkan oleh para nabi dan orang suci mereka. Sehingga denan itu kita menjadi negara yang berbudi pekerti luhur. Menjadi negara yang betuhan.

Setelah memaparkan lima dasar bagi negara Indonesia merdeka yang diberi nama Pancasila itu, Bung Karno melanjutkan dengan membuat paparan tentang Trisila dan Ekasila. Yang jika kita perhatikan penjelasan Bung Karno dalam pidatonya, meski nampak seakan-akan Bung Karno sedang memberi opsi lain dari pada Pancasila, yaitu Trisila dan Ekasila, yang mana ketiganya adalah sama secara subtansi, namun kita dapat mengerti bahwa maksud Bung Karno justru lebih kepada untuk memperkuat penenalan kita akan dasar yang lima dari Pancasila itu.

Trisila yang terdiri dari Sosio-nationalisme yang merupakan perasan dari pada kebangsaan dan Internasionalisme, kemudian Socio-demokratie yang harus meliputi politik dan ekonomi dimana ini merupakan perasan dari pada dasar demokrasi dan kesejahteraan sosial, dan yang ketiga adalah Ketuhanan. Yang secara sederhana dapat kita simpulakan bahwa pada intinya yang pertama adalah kita harus mewujudkan persatuan dan persaudaraan kita sebagai bangsa dengan juga memperhatikan hubungan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Persatuan yang kokoh itulah yang menjadi dasar kita mendirikan negara Indonesia yang kemudian kita selenggarakan secara demokrasi. Secara permusyaratan perwakilan yang setiap golongan mendapatkan persamaan hal secara politik dan ekonomi. Kemudian yang ketiga bahwa semua itu haruslah didasarkan kepada ketakwaan kita kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Adapun tentang Ekasila, Bung Karno menjelaskan bahwa dasar yang tiga tersebut bahkan dapat diperas lagi menjadi satu dasar. Dan dasar yang satu itu ialah Gotong Royong. Yang melaui ini kita menjadi mengeti bahwa inti sari dari pada Pancasila itu ya adalah Gotong Royong itu. Dimana kita mendirikan negara Indonesia yang kita niatkan semua buat semua ini tentulah dibutuhkan dukungan baik dari semua golongan. Dalam penjelasanya Bung Karno menyebut: “Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjoangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntulbaris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!”

Akhir dari pada pidatonya Bung Karno meminta kepada kita semua untuk sama-sama berjuang mewujudkan apa yang kita cita-citakan melalui Pancasila itu. Dibutuhkan persatuan, tekad, keberanian dan semangat yang berkobar-kobar untuk mewujudkan segala apa yang kita cita-citakan untuk Indonesia ini. Kita harus melihat bahwa kemerdekaan hanyalah jembatan emas yang di seberang dari pada jembatan tersebutlah kita bekerja dengan sekeras-kerasnya untuk mewujdukan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur tersebut.

Oleh : Edy Suryadi, Ketua Rumah Kebangsaan Pancasila (RKP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *