LEARNING POINT MANASIK HAJI [WAWASAN]

Tema: Menemukan hujjah dalam haji – pondasi bagi ketakwaan

Untuk mencapai haji yang mabrur bukan saja dibutuhkan kemampuan untuk melaksanakan setiap tahapan prosesi ritual ibadah haji yang ada dengan sempurna; namun jauh lebih penting lagi dari itu adalah dibutuhkan kemampuan kita untuk memaknai secara mendalam setiap prosesi ritual yang kita jalani dalam ibadah haji tersebut. Karenanya menjadi sangat penting bagi kita untuk membekali diri dengan sebaik- baiknya agar ketika saatnya panggilan tersebut datang, kita dapat menunaikannya dengan sebaik mungkin dan menjadikan kita sebagai haji yang mabrur. Atau sekalipun kita belum mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan haji, setidaknya dengan kita telah memahami makna dan nilai yang terkadung di dalam ibadah haji ini kita dapat mengimplentasikannya di dalam kehidupan kita.

Sama seperti ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, puasa dan zakat yang tujuannya adalah mencapai ketakwaan, demikian juga halnya dengan ibadah haji. Hanya saja kekhususan ibadah haji; ibadah akbar yang diwajibkan setidaknya sekali seumur hidup bagi orang yang mampu melakukannya ini, memiliki rangkaian prosesi ibadah yang kuat yang jika dilakukan dengan baik dan benar mempunyai impact PERMANENISASI KETAKWAAN kita. Yang dalam bahasa nusantara disebut mahardika atau jiwa yang merdeka. Karena itulah dalam sabdanya Rasulullah menyampaikan: “Sungguh haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

Rangkaian prosesi ibadah haji yang dimulai dari IHRAM (diharamkan) dan diakhiri dengan TAHALLUL (dihalalkan) adalah penggambaran sebuah proses metamorfosis spiritual. Perlu kita pahami bahwa sebenarnya dalam kontek spiritualitas apapun yang kita miliki dalam kehidupan duniawi ini menjadi haram adanya ketika disertakan nafsu kotor di dalamnya. Kekayaan yang disertai kebakhilan, ilmu yang disertai kekufuran atau jabatan yang disertai keangkuhan, itu semua menjadi kotor. Menjadi haram. Tentu setiap orang boleh menjadi kaya sekaya-kayanya, menjadi cerdas secerdas-cerdasnya dan menjadi tinggi setinggi- tingginya. Tapi semua itu harus disertai oleh ketakwaan.

Jiwa yang takwa adalah jiwa yang terpelihara. Jiwa yang telah terbebas dari segala belenggu nafsu yang merusak. Jiwa yang telah tertenam kuat kebenaran (hujjah) padanya sehingga tidak mudah jatuh ke dalam dosa dan kerusakan. Inilah jiwa yang mahardika itu. Jiwa yang merdeka. Jiwa yang demikian itulah yang membawa kita kepada keridhoan Allah. Yang membuat kita aman, damai, selamat dan sejahtera. Dan meski ibadah haji bukanlah satu-satunya jalan untuk mencapai ketakwaan tersebut, namun memahami rangkaian proses ibadah haji adalah penting untuk kita melihat pola; melihat formula untuk mencapai kualitas takwa yang sebaik-baiknya yang tersyiarkan dalam ibadah haji.

TAHAPAN PROSESI IBADAH HAJI

1. IHRAM

• Secara bahasa ihram berarti “diharamkan”. Yang secara harfiahnya, jamaah yang berihram diharamkan baginya: bersenggama, melakukan kejahatan, berselisih, memakai pakaian berjahit bagi laki-laki, memakai tutup kepala bagi laki-laki, memakai cadar bagi perumpuan, melangsungkan akad nikah, memotong kuku dan mencukur rambut, memakai wangi-wangian dan berburu.

فِي ِه آيَات بَيِنَات َمقَام إِب َراهِيمَ ۚ َو َمن دَخَلَه كَا َن آ ِمنًا ۚ َو ِ ِ عَلَى الن ا ِس ِحج البَي ِت َم ِن است َطَاعَ إِلَي ِه سَبِي ًل ۚ َو َمن

كَف َ َر فَإِ ن َ غَنِي عَ ِن الع َالَ ِمي َن

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya

(Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi)

orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka

sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

(QS. Al-Imran: 97)

  • Keadaan ihram secara kontektual bermakna diri yang masih harus berpantang. Keadaan diri yang masih terbelenggu nafsu dan mudah tergelincir jatuh ke dalam dosa. Perjalanan haji adalah perjalanan menemukan dan menancapkan hujjah kedalam jiwa yang denganya diri menjadi kokoh dan terpelihara dalam ketakwaan.
  • Menanggalkan pakaian duniawi yang beragam pola, warna dan atribut kemudian menggantinya dengan pakaian ihram yang putih polos dan tak berjahit bermakna bahwa perjalanan menuju Allah; menuju kepada ketakwaan dan kesejatian diri haruslah dimulai dengan keihlasan menanggalkan segala kemelekatan kita kepada dogma, harta, strata dan segala objek lainnya. Kita benar-benar berdiri dengan penuh kerendahan hati, kepolosan dan ketulusan karena Allah.
  • Kumpulan jamaah dengan pakaian ihram yang sama bermakna bahwa hakekatnya setiap manusia adalah sama di hadapan Allah. Keadaan ini diharapkan mendatangkan kesadaran batin yang meruntuhkan segala bentuk indetifikasi diri yang melahirkan perpecahan. Tidak ada beda antara yang kaya dengan yang miskin, antara yang kulit hitam dengan yang kulit putih, antara yang atasan dan yang bawahan, antara yang dari timur dan yang dari barat dan segala bentuk identifikasi lainya yang membuat kita terpecah.

WUKUF DI ARAFAH

    • Wukuf secara bahasa berarti berdiam diri. Wukuf di Arfah dari tergelincirnya matahari sampai terbenamnya adalah kontemplasi tentang hakekat diri dan kehidupan. Arafah itu sendiri mempunyai arti “pengenalan”. Yang maknanya adalah bahwa prosesi wukuf di Arafah ini adalah prosesi untuk mencapai pengenalan akan jati diri kita sebagai manusia.
    • Inti dari ibadah haji itu adalah Arafah. Al-haj ’Arafah demikianlah sabda Rasulullah. Hal ini lantaran pengenalan akan siapa diri kita adalah dasar utama bagi kita untuk memahami arti dari kehidupan ini secara keseluruhannya. Dan tengah pada Arafah itu sendiri terdapat sebuah bukit yang dinamai dengan Jabal Rahman. Di atas bukit tersebut terdapat sebuah pilar setinggi 8 meter yang disebut dengan Pilar Rahmah atau Pilar Kasih Sayang.
    • Jabal Rahmah dengan pilar kasih sayang itu menjadi sebuah patokan atau petunjuk mengenai arah kontemplasi kita. Yang dengan itu artinya prosesi kontemplasi kita adalah prosesi pengenalan akan kasih sayang sebagai esensi dari pada kehidupan. Bahkan kasih sayang itu adalah esensi dari pada Tuhan Semesta Alam itu sendiri. Kasih sayang inilah yang harus kita pegang erat; kita jadikan dasar; kita jadikan pondasi bagi segala aspek kehidupan pribadi dan sosial kita.

MABIT DI MUZDALIFAH

      • Mabit di Muzdalifah adalah bermalam di Muzdalifah untuk menuju Mina selepas wukuf di Arafah. Muzdalifah sendiri mempunyai arti “kesadaran”. Yang maknanya bahwa pengenalan atau pengetahuan yang kita bawa dari Arafah – kasih sayang sebagai esensi diri, kehidupan dan Tuahan – haruslah kita proses menjadi sebuah kesadaran dalam kalbu. Sebab sebuah pengetahuan belumlah cukup berkekuatan untuk menggerakan perbuatan sebelum ia dirubah menjadi kesadaran.
      • Di Muzdalifah ini juga kita mengumpulkan batu-batu kerikil – 70 atau 49 jumlahnya tergantung berapa lama nantinya kita di Mina – yang nantinya akan kita gunakan untuk melakukan prosesi lempar jumroh. Mengumpulkan batu-batu kerikil ini adalah simbol dari sebuah proses melahirkan prinsip-prinsip yang akan menjadi senjata kita untuk menaklukan bisikan-bisikan syaitan atau hawa nafsu kita sendiri.

JUMRAH DI MINA

  • Jumrah adalah prosesi melempar syaitan yang disimbolkan dengan tiang batu. Berbekal batu- batu kerikil (prinsip-prinsip kebenaran) kita mengusir syaitan atau sifat-sifat tercela pada diri kita.

2. Mina itu sendiri berarti “cinta hakiki”. Cinta hakiki itu sendiri pada dasarnya merupakan fitrah yang memang sudah melekat pada diri kita. Hanya saja pancaran cinta hakiki ini dapat tertutupi oleh sifat-sifat tercela – yang dari pada itulah membuang sifat-sifat tercela ini merupakan jalan untuk memastikan cinta hakiki terpancar dengan baik dan menjadi kepribadian yang nyata pada kita.

  1. Jumrah Ula adalah prosesi melempar syaitan yang membisikan sifat-sifat Qarun – Materialistik. Sambil melempar tiap-tiap kerikil yang berjumlah 7 butir itu kita afirmasikan untuk membuang segala sifat materalistik di dalam diri kita, seperti: [bakhil, cinta dunia, foya-foya, serakah, pamrih dan riya]
  2. Jumrah Wustha adalah prosesi melempar syaitan yang membisikan sifat-sifat Bal’am – Munafik. Sambil melempar tiap-tiap kerikil yang berjumlah 7 butir itu kita afirmasikan untuk membuang segala sifat munafik dalam diri kita, seperti: [khianat, dengki, dusta, pencela, penjilat, malas dan pesimis]

Jumrah Aqobah adalah prosesi melempar syaitan yang membisikan sifat-sifat Fira’un – Egoistik. Sambil melempar tiap-tiap kerikil yang berjumlah 7 butir itu kita afirmasikan untuk membuang sifat egoistik dalam diri kita, seperti: [sombong, penindas, menang sendiri, pendendam, menutup diri, zalim dan pemarah]                                                                         

TAHALLUL SHUGRO

    • Tahallul adalah prosesi mencukur rambut. Secara bahasa tahallul berarti “dihalalkan”. Yang secara harfiahnya dengan tahallul shugro atau tahallul kecil ini sebagian larangan dalam ihram telah dihalalkan untuk dilakukan, seperti: memakai pakaian berjahit bagi laki-laki, memakai tutup kepala bagi laki-laki, memakai cadar bagi perumpuan, memotong kuku, mencukur rambut, memakai wangi-wangian dan berburu. Yang artinya masih ada sebagain larangan yang lain yang belum dihalalkan.
    • Keadaan ini secara kontektual berarti kita telah sampai kepada kualitas pengendalian diri yang lebih tinggi dari sebelumnya. Hujjah yang kita temukan dalam prosesi sebelumnya telah tertanam dengan baik pada diri kita. Sifat-sifat tercela telah mampu kita tanggalkan. Hanya saja sebagaimana pohon yang baru ditanam tentu penguatan lanjutan harus terus dilakukan sampai prinsip-prinsip kebenaran itu benar benar solid menancap di dalam kalbu.

TAWAF IFADAH

    • Tawaf adalah prosesi mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali putaran berlawanan arah jarum jam yang dimulai dari hajar aswad. Tawaf secara bahasa berarti “berputar mengelilingi sesuatu”. Yang secara kontektual tawaf mengelilingi baitullah ini bermakna pengabdian kepada kebenaran. Dimana kita masuk menjadi bagian dari tatanan sosial kehidupan yang berpusat kepada Allah – berdasar kepada ajaran kasih sayang. Dedikasi kita dan bakti kita dalam putaran aktifitas yang bersentar kepada Allah atau berdasar pada ajaran kasih sayang itulah kita mengasah ketakwaan kita hingga ia benar-benar menyatu dan menjadi bagian tak terpisahkan dengan diri kita.
    • Ifadah itu sendiri berarti “meninggalkan”. Secara kontektual ini bermakna bahwa sifat-sifat buruk yang kita tanggalkan melalui prosesi jumrah, melalui prosesi tawaf ini – dedikasi dan bakti kita kepada kehidupan yang berpusat kepada Allah – akan dengan sendirinya semakin jauh kita tinggalkan dan lenyap dari diri kita. Sehingga yang ada hanyalah cita hakiki. Inilah proses permanenisasi ketakwaan kita itu.

SAI ANTARA BUKIT SAFA DAN MARWAH

• Ayat berikut ini penting agar kita memahami makna sa’i. “Sesunggunya Shafaa dan Mawrah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka berang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan, maka sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha Penyayang”. Hal yang harus kita garis bawahi dari ayat ini adalah kalimat: “maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya”.

  • Dalam kalimat: “maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya” tersirat makna bahwa Allah sangat memaklumi sifat manusia yang pada tabiatnya adalah peragu. Dapat dikatakan tidak ada seorang manusia pun yang bisa langsung menjadi benar. Langsung menjadi baik. Langsaung menjadi takwa. Manusia itu mudah terombang ambing bahkan sekalipun dia telah mengenal kebenaran.
  • Salah satu makna bergerak bolak-balik dari Safa ke Marwah adalah sebuah pencarian atau satu proses menyetel kedudukan hati. Sama halnya seperti ketika kita menggeser atau memutar tombol frekwensi radio untuk mencari posisi yang tepat. Kita harus menggerakannya ke kanan dan ke kiri untuk mencari kedudukan terbaik. Dalam proses kita mencapai ketakwaan pun demikian, kesalahan dan kekeliruan wajar terjadi pada kita manusia. Sejauh kita tahu apa yang kita cari dan memantapkan diri untuk menemukannya, pada akhirnya kita akan duduk tetap di dalam kebenaran.
  • Sa’i juga terkandung makna padanya bahwa kebenaran itu tidaklah di timur atau di barat. Tidaklah di selatan atau di utara. Tidaklah di kanan atau di kiri. Kebenaran itu sejatinya telah ada pada diri kita sendiri. Jadi meski dalam prosesnya kita akan bergerak ke sana dan ke sini untuk menemukan kebenaran itu, namun pada akhirnya kita harus kembali kepada jati diri kita sendiri. Percaya dan berpegang kepada suara hati kita sendiri.                                                                        

TAHALLUL KUBRO

• Tahallul kubro atau tahallul besar adalah prosesi mencukur rambut yang penutup. Yang dengan itu keseluruhan dari larangan dalam ihram telah dihalalkan. Yang secara kontekstual ini bermakna bahwa kita telah sampai kepada sebaik-baiknya takwa. Keadaan mahardika atau telah mencapai jiwa yang merdeka. Hujjah yang telah menancap kuat di dalam kalbu kita membuat ketakwaan kita kokoh dan tak tergoyahkan.

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. (QS. 3:102)

Dan dengan selesainya seluruh rangkaian prosesi haji tersebut, maka tinggal kita mengukur impact yang kita rasakan dan dapatkan dari seluruh prosesi tersebut. Segala hujjah dan kualitas takwa yang kita dapatkan dari rangkaian proses ibadah haji tersebut menjadi bekal kita untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *