Hanya orang Indonesia yang mengenal tradisi ini. Hidangan tumpengan yang selalu dihadirkan dalam berbagai acara spesial seperti ulang tahun, hajatan, syukuran dsb yang semula adalah tradisi kini menjadi  kebiasaan umum bahkan merambah ke tingkat nasional dan internasional. Hal itu terlihat dari beberapa event nasional seperti peringatan HUT Kemerdekaan RI yang menggunakan tumpeng sebagai menu utama. Baik pada acara syukuran di lingkungan masyarakat hingga kantor-kantor instansi bahkan Istana Negara. Tumpeng juga sempat membuat ratusan delegasi dari berbagai negara peserta sidang umum di Jenewa, Swiss terpukau. Belum lagi dalam berbagai peringatan hari besar nasional di kantor-kantor perwakilan Indonesia di luar negeri, tumpengan sering menjadi primadona.  

Tumpeng yang sudah dikenal masyarakat dunia

Konsulat Jenderal RI di Turki, Heri Sudradjat memberikan potongan nasi tumpeng kepada petugas pengibar bendera dalam perayaan HUT RI ke 74 di konjen RI di Istanbul Turki.

Namun tahukah anda darimana tradisi tumpengan itu berasal ? Di setiap hidangan pelengkapnya ternyata juga menyimpan makna dan filosofi sendiri. 

Seperti dikutip sahabatnestle.co.id  nasi tumpeng yang kini sudah diperkenalkan pada dunia, tidak hanya hidangan tradisional yang menarik dan lezat tetapi menyimpan makna filosofis yang indah. Dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia, Dr. Ari Prasetiyo, SS, MSi mengatakan, nasi tumpeng merupakan bentuk representasi hubungan antara Tuhan dengan manusia dan manusia dengan sesamanya. 

Menurut sejarah, nasi tumpeng dibuat untuk memuliakan gunung sebagai tempat bersemayamnya para arwah nenek moyang. Bentuknya yang mengerucut seperti gunung, nasi tumpeng ini berkaitan erat dengan keadaan alam di Indonesia yang banyak terdapat gunung dan perbukitan. Sedangkan makna dari Tumpengan yaitu rasa terima kasih pada Tuhan Yang Maha Kuasa. Berasal dari kata tumpeng yang merupakan akronim dari kalimat ‘yenmeTU kudu meMPENG’ atau berarti ketika keluar harus sungguh-sungguh semangat.  “Mungkin maksudnya adalah manusia ketika terlahir harus menjalani kehidupan di jalan Tuhan dengan semangat, yakin, fokus, tidak mudah putus asa. Juga dalam proses itu semua, percayalah bahwa Tuhan ada bersama kita,” jelas Dr. Ari. 

Saat membuat atau menyantap sajian nasi tumpeng, tentunya ada banyak lauk pauk yang menyertainya. Ada telur, sayuran, ikan atau ayam, termasuk cabai yang menjadi pemanis di pucuk tumpeng. Dibalik beragam lauk pauk itu ternyata mengandung filosofi tersendiri. Seperti apa filosofinya? Filosofi tumpengan sebagai tradisi khas Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *