Field Trip dan Study Tour Serupa Tapi Tak Sama

Field Trip dan Study Tour Serupa Tapi Tak Sama

Setiap sekolah pasti memiliki program jalan-jalan sambil mengunjungi tempat-tempat yang bisa memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan bagi para siswanya. Program tersebut dikenal dengan nama study tour yang biasanya mengambil tujuan museum atau tempat-tempat bersejarah dimana para siswa dapat belajar mengenai sejarah dari benda-benda kuno disana. Saat ini ada satu istilah program lagi yang juga populer yaitu Field Trip yang juga berisi kegiatan siswa di luar sekolah dengan berbagai kegiatan bermanfaat. Baik study tour maupun field trip sudah menjadi kegiatan rutin di hampir semua sekolah setiap tahunnya. Apakah perbedaan dari study tour maupun field trip dan bagaimana penjelasannya? 

Ada yang menganggap study tour dan field trip hampir sama maknanya hanya terdapat perbedaan bahasa saja. Namun dalam pelaksanaannya, study tour bisa memiliki beberapa tujuan lokasi dalam kunjungan 1 hari, sedangkan dalam field trip, siswa hanya diajak ke 1 lokasi saja dalam kunjungan 1 hari penuh atau setengah hari saja. Namun kegiatan study tour memiliki landasan hukum yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2015 pasal 19 bahwa proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan. 

Tidak jauh berbeda dengan study tour, field trip juga mengajak siswa untuk berpikir kreatif, memiliki pengalaman baru serta dapat melihat dan mengetahui permasalahan secara langsung, melalui kunjungan di luar sekolah. Penting bagi anak-anak mengikuti kegiatan field trip karena memiliki manfaat bagi pengalaman belajarnya. Sementara pihak guru harus menerapkan teori 6 M saat pembelajaran, yaitu mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta. 

Baik program study tour atau field trip bisa diikuti oleh anak-anak usia SD, SMP, SLTA dan mahasiswa. Sejumlah komunitas atau organisasi juga sering menggunakan program tersebut untuk menambah wawasan para anggotanya. 

Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan dalam study tour maupun field trip seperti : 

1.Outbound yang berisi beragam permainan tantangan untuk individu maupun team, seperti flying fox, arung jeram, paintball, panahan dan games team building.

2.Pelatihan seni dan budaya seperti pelatihan keramik, membatik, memainkan alat musik tradisional, pentas seni tradisional, dll

3.Agro wisata yang terdiri dari agro sawah, apotik hidup, agro sayur dan buah.

4.Mengunjungi tempat bersejarah seperti museum dan monumen bersejarah.

5.Tempat wisata edukasi seperti laboratorium science, planetarium, wisata observasi, dll.

Gelar Program study tour dan field trip di Citra Alam, anda bisa mendapatkan pengalaman seru dan menyenangkan. Pihak sekolah dapat merencanakan kegiatan apa yang akan mengisi program tersebut atau kami akan membantu merancang setiap kegiatannya. Segera daftarkan rencana kegiatan sekolah anda dengan menghubungi kontak.

 

Cara Ajarkan Anak Membuang Sampah

Cara Ajarkan Anak Membuang Sampah

Sering kali kita dengar kalimat “Kebersihan adalah sebagian dari iman” yang digunakan sebagai jargon kampanye menjaga kebersihan. Peduli lingkungan itu sederhana, tetapi kadang sangat susah dilakukan. Peduli lingkungan seharusnya bukan hanya sebagai tren, melainkan gaya hidup yang harus dijalani setiap orang demi menjaga bumi kita. Peduli lingkungan harus diterapkan mulai sedini mungkin untuk membentuk pribadi anak yang baik. Membentuk pribadi yang baik dibutuhkan pola pendidikan yang tepat dan disini lah dibutuhkan peran besar orang tua.  

Mendidik anak mencintai lingkungan bisa dimulai dengan hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Sebuah perbuatan yang sederhana tapi terbukti sangat sulit untuk menjadi sebuah kebiasaan. Oleh karena itu, kesadaran agar anak buang sampah pada tempatnya harus ditumbuhkan sejak usia dini. 

Sulitnya membudayakan hidup bersih dengan tidak membuang sampah sembarang, masih banyak terlihat di sejumlah tempat. Ketika berada di pusat perbelanjaan, tempat wisata, jalan raya atau tempat-tempat umum lain, masih banyak ditemukan orang yang membuang sampah sembarangan. Padahal berbagai informasi mengenai dampak tidak baik akibat lingkungan yang kotor karena sampah berserakan sudah seringkali disampaikan melalui berbagai media dan kampanye. Mulai dari lingkungan yang tidak terlihat indah karena kotor dan bau, hingga timbulnya beragam penyakit dan banjir.  

Dengan memberikan kesadaran tentang pentingnya kebersihan lingkungan, penumbuhan sikap dan perilaku membuang sampah pada tempatnya kepada anak-anak, maka diharapkan saat mereka tumbuh dewasa, sudah terbiasa dengan hidup bersih. Tidak lagi perlu diingatkan, dengan sendirinya sudah memiliki tanggung jawab dalam menjaga kebersihan lingkungan dimanapun ia berada. 

Ada beberapa cara untuk menumbuhkan kesadaran membuang sampah pada tempat, di antaranya:

Pertama, memberikan tindakan nyata dengan mengajak anak membuang sampah pada tempatnya. Misalnya saat bepergian, buang bungkus makanan kemasan dalam tempat sampah atau kumpulkan dalam satu plastik jika belum menemukan tempat sampah. Apabila seorang anak sering melihat kebiasaan orang tuanya itu, maka ia akan selalu menirunya sehingga kelak menjadi kebiasaan yang baik ketika sudah dewasa. 

Kedua, menunjukkan secara langsung dampak membuang sampah sembarangan. Misalnya dengan mengajak anak-anak ke pasar atau lingkungan yang kotor. Jika menemukan tumpukan sampah mereka akan merasakan secara langsung betapa kotor, bau dan tidak nyamannya lingkungan tersebut. 

Ketiga, mengajak bermain seperti dengan berlomba memasukkan kertas bekas ke dalam tong sampah atau dengan bermain peran yang melibatkan langsung anak-anak sesuai tema.   

Keempat, teladan lingkungan terdekat dalam pengaturan membuang sampah pada tempatnya akan memberi efek baik terhadap daya tangkap anak dalam memahami maksud dan tujuan suatu perbuatan. Orang tua merupakan teladan utama dalam mendidik dan membimbing anak-anak.   

Menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya membuang sampah sejak dini adalah salah satu cara ikut melestarikan lingkungan agar tetap bersih sehingga tercipta lingkungan yang sehat dan bebas dari wabah penyakit. 

 

Peran Generasi Muda Dalam Mempertahankan Seni Dan Budaya Bangsa

Peran Generasi Muda Dalam Mempertahankan Seni Dan Budaya Bangsa

Secara umum seni diartikan sebagai segala sesuatu yang dibuat oleh manusia yang memiliki unsur keindahan. Seni juga mampu membangkitkan emosi atau perasaan orang lain. Sedangkan budaya adalah cara hidup yang berkembang bersama pada sekelompok orang dengan cara turun-temurun dari generasi ke generasi. Namun jika melihat kondisi generasi bangsa saat ini sangat miris karena mulai menurunnya rasa kecintaan dan keinginan untuk memajukan serta melestarikan seni dan budaya daerah sebagai warisan leluhur.  

Lemahnya peran pemuda dalam menjaga dan melestarikan seni dan budaya daerah masing-masing bisa dilihat dari trend gaya hidup yang banyak budaya modern yang kebarat-baratan. Akibatnya, mereka kurang mengenal budaya daerah negeri sendiri apalagi bisa ikut mempelajari dan melestarikannya. Lalu, bagaimana seharusnya para generasi muda menjalankan perannya dalam mempertahankan seni dan budaya bangsa?.

1. Mengenal seni dan budaya 

Ada peribahasa yang berbunyi, Tak Kenal Maka Tak Sayang yang berarti penting untuk lebih dulu mengenal sebelum menyayangi sesuatu. Hal tersebut juga bisa diterapkan bagi seni dan budaya bangsa. Generasi muda perlu mengenal kesenian dan kebudayaan Indonesia yang sangat banyak ragamnya. Dengan mengenal, akan lebih mudah untuk tertarik dan mempelajarinya. Selanjutnya akan muncul rasa ikut memiliki dan pada akhirnya tumbuh rasa mencintai seni dan budaya sendiri.  Contohnya mengenal dan mempelajari kesenian dan lagu-lagu daerah.

2. Mencegah agar tak diakui negara lain

Banyaknya ragam kebudayaan di Indonesia, seringkali membuka kemungkinan bagi negara lain untuk mengakuinya, terutama negara tetangga. Untuk itu generasi muda wajib ikut serta dalam usaha menjaga keamanan budaya dengan mempraktekkan dan melaksanakan segala yang berhubungan seperti  cara berbahasa dsb sehingga budaya tidak akan bisa mudah diambil atau diakui oleh negara lain.

3. Melahirkan kesadaran melestarikan seni dan budaya

Sejatinya kesadaran untuk melestarikan warisan budaya bangsa memang harus dimulai dari para generasi bangsa karena di pundaknya lah ada potensi besar yang dapat memotivasi berbagai pihak. Demi mempertahankan seni dan budaya Indonesia, generasi muda wajib membangun kesadaran untuk melestarikan, menjaga, serta melindungi apa yang sudah menjadi warisan budaya Indonesia agar tetap berkembang.

4. Memiliki rasa bangga

Sebagai generasi penerus, bangsa Indonesia harus mempunyai rasa kebanggaan tersendiri memiliki beragam seni dan budaya yang merupakan aset negara. Maka dari itu generasi muda harus ikut serta melestarikan seni dan budaya dengan menggunakan produk asli buatan Indonesia misal menggunakan batik dalam berbagai acara resmi. 

5. Mengenalkan keragaman budaya pada dunia

Diantara negara-negara di dunia, Indonesia terkenal dengan keragaman seni budaya yang tersebar dari sabang sampai merauke. Memperkenalkan keragaman budaya kepada dunia akan menumbuhkan kebanggaan atas kekayaan budaya yang dimiliki. Jika dunia sudah mengenal seni dan budaya Indonesia, maka akan terjadi harmonisasi hubungan dengan negara-negara lain. Kerjasama dapat terjalin, seperti pertukaran pelajar atau pertukaran misi kebudayaan. Perbedaan yang ada dari keberagaman juga bisa menjadi cara untuk mengusung slogan “Bhinneka Tunggal Ika” (berbeda-beda tetap satu jua). 

Generasi muda adalah harapan masa depan bangsa, calon pemimpin masa depan, oleh karena itu di pundak generasi muda lah nasib suatu bangsa dipertaruhkan. Suatu bangsa apabila generasi mudanya memiliki kualitas yang unggul dan semangat kuat untuk memajukan budaya daerah yang didasari dengan keimanan dan akhlak mulia, maka bangsa itu akan besar. Ayo kobarkan semangat dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia !.

 

Usir Kejenuhan, Begini Cara Tingkatkan Produktivitas Kerja

Usir Kejenuhan, Begini Cara Tingkatkan Produktivitas Kerja

Pernahkah tiba-tiba anda merasa jenuh di dunia kerja?  Siapapun pasti pernah mengalaminya. Padahal setiap hari harus ada target yang mesti dicapai dan untuk bisa memenuhinya tentu dibutuhkan semangat kerja yang tetap stabil. Jika bekerja dilakukan dengan semangat maka produktivitas akan meningkat, tapi apabila sebaliknya produktivitas pun dapat menurun. Jadi untuk tingkatkan produktivitas kerja, penting untuk mempertahankan semangat dalam bekerja. 

Ada 2 cakupan dalam meningkatkan produktivitas kerja, yaitu : 

Di lingkungan kerja 

Memperbaiki suasana di lingkungan tempat bekerja, bisa menjadi cara untuk meningkatkan produktivitas. Berada di lingkungan kerja yang nyaman, akan membuat pekerjaan apapun  dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan target yang harus dicapai. 3 cara meningkatkan produktivitas kerja di lingkungan kerja : 

  1. Memperbaiki alur kerja. Dalam bekerja terkadang tanpa disadari kita belum berada pada alur yang benar. Akibatnya target tidak terpenuhi secara maksimal. Karena kondisi tersebut terjadi terus menerus, maka seringkali menimbulkan kejenuhan. Cobalah mulai memperbaiki alur kerja dengan cara mengubah jadwal dan pekerjaan apa yang pertama kali harus dilakukan hingga seterusnya. Jangan sungkan untuk meniru cara kerja rekan anda yang sudah merasa nyaman dengan alur kerjanya. Atau bisa juga sedikit menyisipkan hal diluar alur kerja, seperti menonton video di channel sosmed yang bisa menjadi hiburan sekaligus inspirasi bagi kreativitas anda. 
  2. Mengorganisir file data. Bisa saja kejenuhan dalam bekerja berasal dari sumber-sumber pekerjaan yang tidak tertata dengan baik. Anda sering kali kebingungan dalam mencari satu file, bahkan lupa dimana menyimpannya baik yang berupa hardcopy atau softcopy. Cobalah untuk mulai mengorganisir file data, guna mempermudah anda melakukan pekerjaan. 
  3. Menciptakan tempat kerja yang efektif. Cara ini bisa dimulai dari meja kerja anda. Buatlah meja kerja enak dipandang dari kejauhan. Bukan meja kerja yang penuh dengan tumpukan kertas, ATK yang tidak tersusun rapi, dll. Bahkan anda dapat meletakkan vase bunga kecil atau foto keluarga untuk menyegarkan pandangan anda di meja kerja. Apabila kantor adalah rumah kedua bagi anda, maka meja kerja bisa dianggap sebagai kamar atau ruangan favorit di rumah anda. 

Dari Diri Sendiri 

Selain perbaikan di lingkungan kerja, anda juga membutuhkan perbaikan pada diri sendiri, agar bisa meningkatkan produktivitas kerja. Caranya yaitu dengan memperbaiki kualitas diri yang bisa dilakukan dengan cara : 

  1. Menjaga pola makan dan istirahat yang sehat. Selama berada dalam usia produktif, setiap manusia pasti membutuhkan energi serta daya pikir yang maksimal untuk bisa menjalankan semua yang menjadi tanggung jawabnya. Tak terkecuali terhadap pekerjaan yang menjadi penopang kehidupan diri sendiri maupun keluarga. Oleh karena itu dibutuhkan asupan gizi yang baik serta pola istirahat yang benar, untuk dapat meningkatkan produktivitas dalam bekerja. Seperti tidak tidur terlalu larut apabila besok pagi harus berangkat bekerja, serta makan makanan yang banyak mengandung nilai gizi ketimbang makanan yang hanya asal kenyang.
  2. Menjaga emosi. Hal yang sering menjadi penyebab munculnya kejenuhan di dunia kerja adalah ketika ada seseorang atau pekerjaan yang dianggap bertentangan dengan kata hati. Di tempat kerja manapun pasti akan menemukan teman kerja yang mendatangkan rasa kesal dan memancing emosi. Bersikap sabar dan tidak mengindahkan hal-hal yang mengganggu tersebut bisa menjadi cara agar anda tetap dalam fokus pekerjaan. Namun ketika sudah masuk pada ancaman terhadap karir atau kemerdekaan dalam berkreativitas, barulah anda bisa memikirkan sejumlah kemungkinan untuk mengatasi atau menghindarinya. 
  3. Menyempatkan relaksasi. Antara lain bisa dilakukan dengan mengalihkan perhatian anda pada hal lain diluar pekerjaan. Jenuh akan lebih mudah muncul saat anda dalam kondisi lelah. Agar rasa jenuh tidak mengganggu produktivitas kerja, anda dapat memutar lagu favorite, browsing hal yang menarik di internet, atau beranjak dari meja kerja sejenak untuk mencari suasana baru. Dalam berelaksasi ini, pastikan anda tetap tidak mengganggu rekan kerja anda yang lain. 

Terlepas dari apapun penyebab kejenuhan hingga mempengaruhi produktivitas kerja anda, sejumlah cara tersebut diatas mungkin bisa menjadi alternatif solusinya. Semoga bermanfaat!! 

Bersatu Dalam Keberagaman

Bersatu Dalam Keberagaman

Negara Indonesia merupakan miniatur dunia yang memiliki beragam kultur dan adat istiadat yang mencerminkan kekayaan budaya dalam masyarakat Indonesia mulai dari rumah adat, tarian adat, upacara adat, bahasa daerah, lagu daerah, pakaian serta ciri khas tersendiri lainnya yang mewakili daerah-daerah dari seluruh Nusantara. Negara Indonesia  memiliki banyak keanekaragaman mulai dari suku, budaya, bahasa, maupun agama. 

Sebagai bangsa dan negara yang majemuk harusnya kita terus belajar untuk hidup secara berdampingan dan menjalin hubungan baik dengan sesama manusia. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa kita adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan maupun pertolongan dari orang lain. 

Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan beraneka ragam. Namun, dibalik semua perbedaan yang ada setiap manusia mempunyai hak yang sama. Sama-sama ingin merdeka, sama-sama ingin dihormati, dihargai, sama-sama ingin diperlakukan secara adil, dan sama-sama ingin dilindungi. 

Berbeda tidak berarti harus berpisah, berbeda tidak berarti tidak dapat bersatu, bahwa berbeda harus kita sikapi dalam konteks gotong-royong. Upaya ini harus kita tujukan demi mencapai tujuan bersama dalam ruang kebersamaan bernama Indonesia. Dasar berpikir seperti inilah yang kemudian menjadikan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Tanah Air Nusantara ini: berbeda-beda tetap satu jua.

Tentu bisa dipastikan bahwa hampir seluruh warga masyarakat paham akan makna semboyan tersebut. Hanya saja, maraknya tindak kekerasan atas nama golongan tertentu menimbulkan intimidasi yang berujung diskriminasi. Oleh sebab itu, perlunya kita sebagai penerus bangsa harus bisa lebih memahami tentang sejarah negara Indonesia, ini lah salah satu bentuk realisasi mencintai tanah air dan memotivasi para penerus bangsa untuk membangun bangsa Indonesia lebih maju dan menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan sehingga kemakmuran dapat dicapai dan penerus bangsa lebih menghargai arti kemerdekaan bangsa ini secara utuh dan menghargai jasa-jasa para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.

Banyak cara agar kita bisa saling menghargai keragaman suku bangsa dan budaya, diantaranya ikut memelihara, melestarikan, dan mengembangkan tradisi serta budaya yang ada dalam masyarakat, tidak merendahkan adat istiadat lain, dan menghormati segala bentuk tradisi dari daerah lain. Mari sama-sama kita bangun keutuhan bangsa dengan memahami segala perbedaan pada setiap individu serta bertoleransi antar agama dan budaya. Karena bersatu dalam keberagaman membuat kita jauh lebih kuat sesuai dengan semboyan Indonesia Bhinneka Tunggal Ika.

Sikap Tegas Orang Tua Batasi Anak Bermain Gadget

Sikap Tegas Orang Tua Batasi Anak Bermain Gadget

Di era milenial seperti sekarang ini, kecanggihan teknologi seolah menghipnotis semua orang. Tak terkecuali anak-anak. Bahkan bukan hal aneh jika sekarang banyak ditemukan anak-anak yang masih dibawah umur sudah pandai menggunakan gadget. Penyebabnya tak lain adalah kesibukan orang tua mereka yang sudah tidak lagi memungkinkan untuk memberikan pendampingan dan pendidikan secara langsung. Saat para orang tua sudah lelah bekerja atau menjalani aktivitas rutinnya, gadget menjadi jalan keluar mengatasi kerewelan anak. Tindakan itulah yang justru memberikan dampak serius. 

Menurut sejumlah pakar psikologi, ketika menggunakan gadget, anak memang akan lebih kreatif dan mandiri, tapi cenderung tidak sabaran dan tidak mengenal proses. “Ada istilah yang namanya instant gratification. Jadi, anak-anak ingin segera dipuaskan. Kepingin apa, harus dapat sekarang. Alhasil, mereka jadi gampang bosan, ngambek dan cranky,” ujar psikolog Ajeng Raviando. 

Dalam sebuah survey pun ditunjukkan bahwa sekitar 30,3% partisipan mengaku karakter paling dominan dirasakan dari anak-anak mereka yang sering menghabiskan waktu bermain gadget adalah tidak sabaran. Sementara 5,2% ibu mengakui anak mereka cenderung individualis. 

Selain sikap tidak sabaran, gadget juga membuat anak kurang memahami proses sehingga empati lebih rendah, keterampilan sosial tidak terasah dan kurang tangguh. Menurut Ajeng, orang yang memahami proses pasti akan mengalami kesalahan, kegagalan, perasaan tidak enak. “Dari kegagalan-kegagalan tadi, justru membentuk seseorang menjadi lebih banyak akal, tidak mudah menyerah dan tidak mudah putus asa,” jelasnya.  

Meski terkesan sederhana, ternyata mengajarkan anak mengenai proses perlu dilakukan sejak dini demi masa depannya. Vera Itabiliana Hadiwidjojo, S. Psi. menegaskan pentingnya orang tua untuk bersikap tega membatasi penggunaan gadget. Ia memberikan rumusan batasan penggunaan gadget yaitu : 

  1. Dibawah 18 bulan : hanya boleh melakukan video call 
  2. Usia 18 – 24 bulan : tidak boleh lebih dari 30 sampai 45 menit dan harus didampingi orang tua
  3. Usia 2 – 5 tahun : boleh menonton selama 1 jam tetapi tidak boleh bermain game
  4. Diatas 6 tahun (SD) : 1 sampai 2 jam sehari hanya menonton dan tidak boleh memasukkan aplikasi game apapun di handphone. Bermain game hanya boleh di akhir pekan. 

Bersikap tega tetap harus dilakukan oleh para orang tua terhadap penggunaan gadget anak-anaknya, meski hal itu menjadi tantangan terbesar saat ini. Dalam sebuah survey, ketika anak dipisahkan dari gawainya, sebanyak 50,1% ibu menyebutkan bahwa buah hatinya akan uring-uringan tetapi perhatiannya bisa dialihkan. Sementara 46,1% mengaku anak-anaknya bersikap biasa saja dan 3,7% ibu mengatakan anaknya bisa sampai tantrum dan mengamuk. 

“Kalau kita bicara anak zaman sekarang, banyak lho yang tidak bisa main sepeda. Belum tentu juga mereka bisa berenang. Padahal, hal-hal dasar itu dibutuhkan oleh anak untuk bisa mempertahankan diri dalam kondisi tertentu,” tambah Ajeng.

Selain dampak psikologi, terlalu banyak bermain gadget pada anak juga akan mengganggu kesehatan mereka seperti obesitas karena anak menjadi kurang bergerak serta gangguan pada mata hingga kerusakan otak akibat radiasi. Edukasi terhadap orang tua di seluruh lapisan masyarakat masih memegang peran penting dalam mengendalikan ketergantungan anak pada kecanggihan teknologi. Jika para orang tua cukup memperoleh edukasi, akan terjadi keseimbangan antara penerapan teknologi dan pembentukan karakter sumber daya manusia. 

Artikel asli 

Cara Berbeda Manasik Haji Di Citra Alam

Cara Berbeda Manasik Haji Di Citra Alam

Hawa segar pantai di Citra Alam Seaside, Anyer siang itu seperti menambah semangat anak-anak peserta kegiatan manasik haji yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Sosial. Setiap anak mengikuti seluruh tahapan proses pelaksanaan ibadah haji yang merupakan rukun islam ke-5. Kegiatan tersebut sekaligus merupakan kegiatan perdana dari program baru Manasik Haji di Citra Alam. 

Kegiatan manasik yang diikuti oleh sekitar 100 anak berlangsung dengan khusyu. Semua tampak antusias memperhatikan arahan dari pemandu yang menyampaikan setiap tahapan proses yang harus dijalani. 

Kegiatan manasik haji di Citra Alam bukan sekedar mengenal titik-titik yang dikunjungi dalam setiap tahapan berhaji saja, tetapi juga diperkenalkan makna sesungguhnya dari berhaji itu sendiri. Mulai dari ihram yang artinya haram atau diharapkan sampai dengan tahalul yang artinya dihalalkan. Melalui kegiatan ini, para peserta akan memahami juga inti dari keseluruhan proses ibadah haji yang adalah membentuk manusia penuh kesadaran, cinta dan kasih sayang. Cinta hakiki yang menanggalkan semua ego, menjauhkan diri dari godaan syaitan dan semua melebur didalam AsmaNya. 

Proses lain yang juga sarat makna adalah Sa’i atau berlari-lari kecil (boleh berjalan kaki) bolak balik sebanyak 7 kali dari bukit Shafa ke Bukit Marwah dan sebaliknya. Dalam proses Sa’i terkandung bentuk toleransi Allah terhadap rasa ragu manusia. Disitulah ditunjukkan bahwa sesungguhnya kebenaran ada di hati setiap manusia. 

Dari keseluruhan makna ritual ibadah haji yang disimulasikan dalam kegiatan manasik haji di Citra Alam, setiap peserta juga akan memperoleh pemahaman bahwa semua proses tersebut juga erat kaitannya dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagaimana membangun kesadaran sebagai manusia ciptaan Tuhan diatas dasar cinta dan kasih sayang yang harus diwujudkan dalam hubungan dengan sesama manusia tanpa memandang perbedaan. Pembelajaran mengenai pentingnya sikap toleransi dan menghargai setiap keberagaman yang ada, juga menjadi pesan penting dalam kegiatan ini. 

Dalam kegiatan manasik haji di Citra Alam, tersedia semua fasilitas yang mendukungnya mulai dari pakaian ihram, hingga miniatur tempat-tempat yang harus dilalui dalam proses pelaksanaan ibadah haji. Para peserta juga akan merasakan pengalaman dan kesan yang berbeda, karena kegiatan manasik haji digelar di area terbuka atau outdoor dengan suasana yang yang menjadi ciri khas setiap lokasi Citra Alam. 

 

Makna Kebangsaan Dalam Kereligian Manasik Haji

Makna Kebangsaan Dalam Kereligian Manasik Haji

Oleh : Bapak Nurmansyah

Sebagai umat muslim kita tentu mengenal Rukun Islam yang ke-5, yaitu berhaji. Karena salah satu kesempurnaan kita sebagai umat muslim adalah apabila kita bisa menunaikan ibadah haji. Nah sebelum kita bisa menunaikan ibadah haji, hal yang utama adalah kita harus memahami HAKEKAT dari berhaji. Tujuannya adalah jika kelak kita bisa pergi haji ke Mekkah, insya Allah kita sudah memiliki pemahaman tentang makna dari setiap Rukun Haji. Tahun 2019 ini, kami dari Citra Alam memiliki program/paket kegiatan MANASIK HAJI. Di Citra Alam, bukan hanya dijelaskan mengenai urutan, do’a dan tertib dalam berhaji, akan tetapi para peserta juga mendapat pemahaman secara komprehensif tentang hakekat dari setiap Rukun Haji tersebut.

Salah satu Rukun Haji yang tidak boleh di tinggalkan adalah Wukuf di padang Arafah. Ada hal yang menarik di dalam proses wukuf ini, dimana kita sebagai umat Muslim dan juga umat manusia di berikan pemahaman akan asal muasal manusia yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku ini di ciptakan oleh Allah SWT untuk saling kenal-mengenal. Di Padang Arafah inilah, manusia pertama di turunkan oleh Allah dari surga, yaitu Nabi Adam as dan Siti Hawa. Setelah sekian lama terpisah akhirnya mereka di pertemukan oleh Allah SWT atas dasar KASIH SAYANG, dan di sanalah kemudian di dirikan tugu JABAL RAHMAH.

Dengan memahami makna dari wukuf di Padang Arafah,  kita sebagai manusia dapat mengenal siapa kita dan mau kemana kita? Siapa kita dapat dijelaskan bahwa kita semua adalah umat yang SATU. Kita semua berasal dari Satu Laki-laki dan Satu Perempuan, yang kemudian menjadi berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling kenal mengenal. Kenal mengenal bukan dalam pengertian tahu nama dll, akan tetapi kita harus saling hormat menghormati KEMERDEKAAN setiap umat manusia yang didasari atas KASIH SAYANG. 

Dan mau kemana kita? Mau kemana kita dapat dijelaskan bahwa pada akhirnya setiap yang bernyawa akan menghadapi kematian, dan kalau kita mati tentu harapannya adalah kita dapat kembali kepada Sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT/Tuhan Yang Maha Esa. Namun pertanyaannya adalah bisakah kita nanti kembali kepada Tuhan YME, jika kita sebagai manusia selalu hidup dengan kebencian, permusuhan, perselisihan, kehancuran, bahkan saling menciptakan kerusakan/peperangan sesama umat manusia ? 

Tentu jawabnya adalah TIDAK BISA! 

Karena Allah SWT telah mengajarkan kepada kita semua sebagai umat manusia, melalui peristiwa HAJI dan Wukuf di Padang Arafah, agar kita KENAL dan TAHU bahwa kita yang berbeda-beda ini berasal dari yang SATU. itulah arti dari BHINNEKA TUNGGAL IKA. 

*)Bapak Nurmansyah adalah Direktur Sumber Daya Manusia PT Cahaya Inti Sejahtera, pusat dari unit bisnis Citra Alam 

Mengenal 2 Jenis Outbound Untuk Anak

Mengenal 2 Jenis Outbound Untuk Anak

Kegiatan belajar mengajar tidak harus berada dalam ruangan apalagi pada kenyataannya di luar ruangan anak bisa lebih aktif dan bergerak dengan bebas. Pembelajaran  di dalam ruang malah cenderung membuat anak mudah jenuh apalagi dengan mendapatkan terlalu banyak teori yang menjemukan. Diperlukan sedikit ruang bebas untuk kegiatan belajar agar anak-anak merasa nyaman, misalnya dengan mengikutsertakan mereka dalam kegiatan edukasi seperti outbound. 

Kegiatan outbound merupakan proses belajar yang diperoleh melalui permainan yang menstimulasi kegiatan petualangan dan kerja sama tim dalam lingkungan alam. Ini merupakan kesempatan untuk melampaui batas-batas fisik, intelektual dan emosional, sehingga dapat meningkatkan kemampuan seseorang untuk belajar dan berperilaku lebih baik. Kegiatan outbound juga berisi permainan untuk meningkatkan rasa kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan. 

Kegiatan outbound dapat dilakukan oleh anak-anak yang usianya berkisar 5-15 tahun.  Ada 2 jenis kegiatan outbound untuk anak berdasarkan kategori permainannya, yaitu outbound soft skill dan outbound hard skill :

1. Outbound Soft Skill: merupakan kegiatan outbound yang dilakukan untuk pengembangan personal dan interpersonal yang biasanya berupa kemampuan (bakat) atau keterampilan. Salah satu contoh dari soft skill adalah kegiatan untuk menanamkan nilai leadership atau kepemimpinan. Sementara peningkatan kerjasama tim adalah tujuan umum dalam outbound soft skill. Semuanya itu tergabung dalam character building yang menjadi salah satu tujuan dalam kegiatan outbound. Permainan outbound soft skill ini dirancang sedemikian rupa sehingga tidak diperlukan gerakan fisik yang berlebihan.

2. Outbound Hard Skill: Adalah kegiatan outbound yang dilakukan untuk keterampilan teknis atau bidang yang dilakukan seseorang sehingga mudah diterapkan. Biasanya outbound jenis ini difokuskan untuk keterampilan seseorang sehingga diperlukan kecepatan dan ketepatan dalam setiap permainannya. Seperti ketika melakukan rafting kalian bisa mengasah kekuatan lengan disamping melatih kerjasama dan kekompakan antar anggota dalam sebuah tim.

Dengan mengikuti kegiatan outbound anak, setiap anak akan meningkatkan kemampuan team building, team work, komunikasi, leadership, kreativitas, konsentrasi, dan masih banyak lagi manfaat lainnya.

 

 

MANASIK / PELATIHAN IBADAH HAJI

LEARNING POINT MANASIK HAJI [WAWASAN]

Tema: Menemukan hujjah dalam haji – pondasi bagi ketakwaan

Untuk mencapai haji yang mabrur bukan saja dibutuhkan kemampuan untuk melaksanakan setiap tahapan prosesi ritual ibadah haji yang ada dengan sempurna; namun jauh lebih penting lagi dari itu adalah dibutuhkan kemampuan kita untuk memaknai secara mendalam setiap prosesi ritual yang kita jalani dalam ibadah haji tersebut. Karenanya menjadi sangat penting bagi kita untuk membekali diri dengan sebaik- baiknya agar ketika saatnya panggilan tersebut datang, kita dapat menunaikannya dengan sebaik mungkin dan menjadikan kita sebagai haji yang mabrur. Atau sekalipun kita belum mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan haji, setidaknya dengan kita telah memahami makna dan nilai yang terkadung di dalam ibadah haji ini kita dapat mengimplentasikannya di dalam kehidupan kita.

Sama seperti ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, puasa dan zakat yang tujuannya adalah mencapai ketakwaan, demikian juga halnya dengan ibadah haji. Hanya saja kekhususan ibadah haji; ibadah akbar yang diwajibkan setidaknya sekali seumur hidup bagi orang yang mampu melakukannya ini, memiliki rangkaian prosesi ibadah yang kuat yang jika dilakukan dengan baik dan benar mempunyai impact PERMANENISASI KETAKWAAN kita. Yang dalam bahasa nusantara disebut mahardika atau jiwa yang merdeka. Karena itulah dalam sabdanya Rasulullah menyampaikan: “Sungguh haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

Rangkaian prosesi ibadah haji yang dimulai dari IHRAM (diharamkan) dan diakhiri dengan TAHALLUL (dihalalkan) adalah penggambaran sebuah proses metamorfosis spiritual. Perlu kita pahami bahwa sebenarnya dalam kontek spiritualitas apapun yang kita miliki dalam kehidupan duniawi ini menjadi haram adanya ketika disertakan nafsu kotor di dalamnya. Kekayaan yang disertai kebakhilan, ilmu yang disertai kekufuran atau jabatan yang disertai keangkuhan, itu semua menjadi kotor. Menjadi haram. Tentu setiap orang boleh menjadi kaya sekaya-kayanya, menjadi cerdas secerdas-cerdasnya dan menjadi tinggi setinggi- tingginya. Tapi semua itu harus disertai oleh ketakwaan.

Jiwa yang takwa adalah jiwa yang terpelihara. Jiwa yang telah terbebas dari segala belenggu nafsu yang merusak. Jiwa yang telah tertenam kuat kebenaran (hujjah) padanya sehingga tidak mudah jatuh ke dalam dosa dan kerusakan. Inilah jiwa yang mahardika itu. Jiwa yang merdeka. Jiwa yang demikian itulah yang membawa kita kepada keridhoan Allah. Yang membuat kita aman, damai, selamat dan sejahtera. Dan meski ibadah haji bukanlah satu-satunya jalan untuk mencapai ketakwaan tersebut, namun memahami rangkaian proses ibadah haji adalah penting untuk kita melihat pola; melihat formula untuk mencapai kualitas takwa yang sebaik-baiknya yang tersyiarkan dalam ibadah haji.

TAHAPAN PROSESI IBADAH HAJI

1. IHRAM

• Secara bahasa ihram berarti “diharamkan”. Yang secara harfiahnya, jamaah yang berihram diharamkan baginya: bersenggama, melakukan kejahatan, berselisih, memakai pakaian berjahit bagi laki-laki, memakai tutup kepala bagi laki-laki, memakai cadar bagi perumpuan, melangsungkan akad nikah, memotong kuku dan mencukur rambut, memakai wangi-wangian dan berburu.

فِي ِه آيَات بَيِنَات َمقَام إِب َراهِيمَ ۚ َو َمن دَخَلَه كَا َن آ ِمنًا ۚ َو ِ ِ عَلَى الن ا ِس ِحج البَي ِت َم ِن است َطَاعَ إِلَي ِه سَبِي ًل ۚ َو َمن

كَف َ َر فَإِ ن َ غَنِي عَ ِن الع َالَ ِمي َن

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya

(Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi)

orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka

sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

(QS. Al-Imran: 97)

  • Keadaan ihram secara kontektual bermakna diri yang masih harus berpantang. Keadaan diri yang masih terbelenggu nafsu dan mudah tergelincir jatuh ke dalam dosa. Perjalanan haji adalah perjalanan menemukan dan menancapkan hujjah kedalam jiwa yang denganya diri menjadi kokoh dan terpelihara dalam ketakwaan.
  • Menanggalkan pakaian duniawi yang beragam pola, warna dan atribut kemudian menggantinya dengan pakaian ihram yang putih polos dan tak berjahit bermakna bahwa perjalanan menuju Allah; menuju kepada ketakwaan dan kesejatian diri haruslah dimulai dengan keihlasan menanggalkan segala kemelekatan kita kepada dogma, harta, strata dan segala objek lainnya. Kita benar-benar berdiri dengan penuh kerendahan hati, kepolosan dan ketulusan karena Allah.
  • Kumpulan jamaah dengan pakaian ihram yang sama bermakna bahwa hakekatnya setiap manusia adalah sama di hadapan Allah. Keadaan ini diharapkan mendatangkan kesadaran batin yang meruntuhkan segala bentuk indetifikasi diri yang melahirkan perpecahan. Tidak ada beda antara yang kaya dengan yang miskin, antara yang kulit hitam dengan yang kulit putih, antara yang atasan dan yang bawahan, antara yang dari timur dan yang dari barat dan segala bentuk identifikasi lainya yang membuat kita terpecah.

WUKUF DI ARAFAH

    • Wukuf secara bahasa berarti berdiam diri. Wukuf di Arfah dari tergelincirnya matahari sampai terbenamnya adalah kontemplasi tentang hakekat diri dan kehidupan. Arafah itu sendiri mempunyai arti “pengenalan”. Yang maknanya adalah bahwa prosesi wukuf di Arafah ini adalah prosesi untuk mencapai pengenalan akan jati diri kita sebagai manusia.
    • Inti dari ibadah haji itu adalah Arafah. Al-haj ’Arafah demikianlah sabda Rasulullah. Hal ini lantaran pengenalan akan siapa diri kita adalah dasar utama bagi kita untuk memahami arti dari kehidupan ini secara keseluruhannya. Dan tengah pada Arafah itu sendiri terdapat sebuah bukit yang dinamai dengan Jabal Rahman. Di atas bukit tersebut terdapat sebuah pilar setinggi 8 meter yang disebut dengan Pilar Rahmah atau Pilar Kasih Sayang.
    • Jabal Rahmah dengan pilar kasih sayang itu menjadi sebuah patokan atau petunjuk mengenai arah kontemplasi kita. Yang dengan itu artinya prosesi kontemplasi kita adalah prosesi pengenalan akan kasih sayang sebagai esensi dari pada kehidupan. Bahkan kasih sayang itu adalah esensi dari pada Tuhan Semesta Alam itu sendiri. Kasih sayang inilah yang harus kita pegang erat; kita jadikan dasar; kita jadikan pondasi bagi segala aspek kehidupan pribadi dan sosial kita.

MABIT DI MUZDALIFAH

      • Mabit di Muzdalifah adalah bermalam di Muzdalifah untuk menuju Mina selepas wukuf di Arafah. Muzdalifah sendiri mempunyai arti “kesadaran”. Yang maknanya bahwa pengenalan atau pengetahuan yang kita bawa dari Arafah – kasih sayang sebagai esensi diri, kehidupan dan Tuahan – haruslah kita proses menjadi sebuah kesadaran dalam kalbu. Sebab sebuah pengetahuan belumlah cukup berkekuatan untuk menggerakan perbuatan sebelum ia dirubah menjadi kesadaran.
      • Di Muzdalifah ini juga kita mengumpulkan batu-batu kerikil – 70 atau 49 jumlahnya tergantung berapa lama nantinya kita di Mina – yang nantinya akan kita gunakan untuk melakukan prosesi lempar jumroh. Mengumpulkan batu-batu kerikil ini adalah simbol dari sebuah proses melahirkan prinsip-prinsip yang akan menjadi senjata kita untuk menaklukan bisikan-bisikan syaitan atau hawa nafsu kita sendiri.

JUMRAH DI MINA

  • Jumrah adalah prosesi melempar syaitan yang disimbolkan dengan tiang batu. Berbekal batu- batu kerikil (prinsip-prinsip kebenaran) kita mengusir syaitan atau sifat-sifat tercela pada diri kita.

2. Mina itu sendiri berarti “cinta hakiki”. Cinta hakiki itu sendiri pada dasarnya merupakan fitrah yang memang sudah melekat pada diri kita. Hanya saja pancaran cinta hakiki ini dapat tertutupi oleh sifat-sifat tercela – yang dari pada itulah membuang sifat-sifat tercela ini merupakan jalan untuk memastikan cinta hakiki terpancar dengan baik dan menjadi kepribadian yang nyata pada kita.

  1. Jumrah Ula adalah prosesi melempar syaitan yang membisikan sifat-sifat Qarun – Materialistik. Sambil melempar tiap-tiap kerikil yang berjumlah 7 butir itu kita afirmasikan untuk membuang segala sifat materalistik di dalam diri kita, seperti: [bakhil, cinta dunia, foya-foya, serakah, pamrih dan riya]
  2. Jumrah Wustha adalah prosesi melempar syaitan yang membisikan sifat-sifat Bal’am – Munafik. Sambil melempar tiap-tiap kerikil yang berjumlah 7 butir itu kita afirmasikan untuk membuang segala sifat munafik dalam diri kita, seperti: [khianat, dengki, dusta, pencela, penjilat, malas dan pesimis]

Jumrah Aqobah adalah prosesi melempar syaitan yang membisikan sifat-sifat Fira’un – Egoistik. Sambil melempar tiap-tiap kerikil yang berjumlah 7 butir itu kita afirmasikan untuk membuang sifat egoistik dalam diri kita, seperti: [sombong, penindas, menang sendiri, pendendam, menutup diri, zalim dan pemarah]                                                                         

TAHALLUL SHUGRO

    • Tahallul adalah prosesi mencukur rambut. Secara bahasa tahallul berarti “dihalalkan”. Yang secara harfiahnya dengan tahallul shugro atau tahallul kecil ini sebagian larangan dalam ihram telah dihalalkan untuk dilakukan, seperti: memakai pakaian berjahit bagi laki-laki, memakai tutup kepala bagi laki-laki, memakai cadar bagi perumpuan, memotong kuku, mencukur rambut, memakai wangi-wangian dan berburu. Yang artinya masih ada sebagain larangan yang lain yang belum dihalalkan.
    • Keadaan ini secara kontektual berarti kita telah sampai kepada kualitas pengendalian diri yang lebih tinggi dari sebelumnya. Hujjah yang kita temukan dalam prosesi sebelumnya telah tertanam dengan baik pada diri kita. Sifat-sifat tercela telah mampu kita tanggalkan. Hanya saja sebagaimana pohon yang baru ditanam tentu penguatan lanjutan harus terus dilakukan sampai prinsip-prinsip kebenaran itu benar benar solid menancap di dalam kalbu.

TAWAF IFADAH

    • Tawaf adalah prosesi mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali putaran berlawanan arah jarum jam yang dimulai dari hajar aswad. Tawaf secara bahasa berarti “berputar mengelilingi sesuatu”. Yang secara kontektual tawaf mengelilingi baitullah ini bermakna pengabdian kepada kebenaran. Dimana kita masuk menjadi bagian dari tatanan sosial kehidupan yang berpusat kepada Allah – berdasar kepada ajaran kasih sayang. Dedikasi kita dan bakti kita dalam putaran aktifitas yang bersentar kepada Allah atau berdasar pada ajaran kasih sayang itulah kita mengasah ketakwaan kita hingga ia benar-benar menyatu dan menjadi bagian tak terpisahkan dengan diri kita.
    • Ifadah itu sendiri berarti “meninggalkan”. Secara kontektual ini bermakna bahwa sifat-sifat buruk yang kita tanggalkan melalui prosesi jumrah, melalui prosesi tawaf ini – dedikasi dan bakti kita kepada kehidupan yang berpusat kepada Allah – akan dengan sendirinya semakin jauh kita tinggalkan dan lenyap dari diri kita. Sehingga yang ada hanyalah cita hakiki. Inilah proses permanenisasi ketakwaan kita itu.

SAI ANTARA BUKIT SAFA DAN MARWAH

• Ayat berikut ini penting agar kita memahami makna sa’i. “Sesunggunya Shafaa dan Mawrah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka berang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan, maka sesungguhnya Allah Maha mensyukuri kebaikan lagi Maha Penyayang”. Hal yang harus kita garis bawahi dari ayat ini adalah kalimat: “maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya”.

  • Dalam kalimat: “maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya” tersirat makna bahwa Allah sangat memaklumi sifat manusia yang pada tabiatnya adalah peragu. Dapat dikatakan tidak ada seorang manusia pun yang bisa langsung menjadi benar. Langsung menjadi baik. Langsaung menjadi takwa. Manusia itu mudah terombang ambing bahkan sekalipun dia telah mengenal kebenaran.
  • Salah satu makna bergerak bolak-balik dari Safa ke Marwah adalah sebuah pencarian atau satu proses menyetel kedudukan hati. Sama halnya seperti ketika kita menggeser atau memutar tombol frekwensi radio untuk mencari posisi yang tepat. Kita harus menggerakannya ke kanan dan ke kiri untuk mencari kedudukan terbaik. Dalam proses kita mencapai ketakwaan pun demikian, kesalahan dan kekeliruan wajar terjadi pada kita manusia. Sejauh kita tahu apa yang kita cari dan memantapkan diri untuk menemukannya, pada akhirnya kita akan duduk tetap di dalam kebenaran.
  • Sa’i juga terkandung makna padanya bahwa kebenaran itu tidaklah di timur atau di barat. Tidaklah di selatan atau di utara. Tidaklah di kanan atau di kiri. Kebenaran itu sejatinya telah ada pada diri kita sendiri. Jadi meski dalam prosesnya kita akan bergerak ke sana dan ke sini untuk menemukan kebenaran itu, namun pada akhirnya kita harus kembali kepada jati diri kita sendiri. Percaya dan berpegang kepada suara hati kita sendiri.                                                                        

TAHALLUL KUBRO

• Tahallul kubro atau tahallul besar adalah prosesi mencukur rambut yang penutup. Yang dengan itu keseluruhan dari larangan dalam ihram telah dihalalkan. Yang secara kontekstual ini bermakna bahwa kita telah sampai kepada sebaik-baiknya takwa. Keadaan mahardika atau telah mencapai jiwa yang merdeka. Hujjah yang telah menancap kuat di dalam kalbu kita membuat ketakwaan kita kokoh dan tak tergoyahkan.

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim. (QS. 3:102)

Dan dengan selesainya seluruh rangkaian prosesi haji tersebut, maka tinggal kita mengukur impact yang kita rasakan dan dapatkan dari seluruh prosesi tersebut. Segala hujjah dan kualitas takwa yang kita dapatkan dari rangkaian proses ibadah haji tersebut menjadi bekal kita untuk menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya.