Merayakan hari raya Idul Fitri adalah saat yang paling dinanti-nantikan seluruh umat muslim setiap tahunnya, di Indonesia bahkan dunia. Setelah satu bulan penuh menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan, umat muslim merayakan Idul Fitri sebagai Hari Kemenangan. Perayaan Idul Fitri atau Lebaran di Indonesia biasanya diisi dengan acara Halal Bi Halal. Menurut Ensiklopedia Indonesia 1978, istilah Halal Bi Halal berasal dari bahasa arab, sedangkan kamus besar bahasa indonesia mengartikannya sebagai bermaaf-maafan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadhan yang biasanya dilakukan di sebuah tempat. Lalu darimana tradisi Halal Bi Halal bermula?

Halal Bi Halal ternyata memiliki sejarah tersendiri yang melibatkan sejumlah tokoh nasional. Adalah KH. Abdul Wahab Chasbullah yang dipanggil Bung Karno ke Istana Negara pada tahun 1948, pada pertengahan bulan Ramadhan.

Ia diminta memberikan pendapat dan saran untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang sedang dilanda ancaman perpecahan bangsa akibat pertengkaran para elit politik. Apalagi saat itu juga tengah berkecamuk sejumlah pemberontakan di sejumlah daerah seperti DI/TII dan PKI Madiun.

Kyai Wahab menyarankan kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahmi, apalagi sebentar lagi adalah Hari Raya Idul Fitri dimana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturahmi. Lalu Bung Karno menjawab,”silaturahmi kan sudah biasa, saya ingin istilah lain.”

“Itu gampang,” kata Kyai Wahab. Ia kemudian menjelaskan permasalahan para elit politik yang tidak mau bersatu akibat saling menyalahkan. Padahal saling menyalahkan adalah perbuatan dosa dan haram hukumnya. Untuk itu menurut Kyai Wahab, yang haram perlu untuk dihalalkan dengan cara mendudukkan mereka dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Maka muncul usul dari Kyai Wahab agar menggunakan istilah halal bi halal.

Selanjutnya Bung Karno mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturahmi dengan nama halal bi halal tersebut. Akhirnya para tokoh politik dapat duduk bersama sebagai babak baru menyusun kekuatan dan persatuan bangsa. Sejak saat itulah instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno ikut menyelenggarakan acara halal bi halal dan kemudian diikuti juga oleh masyarakat luas khususnya muslim di Jawa.

Meski istilahnya dicetuskan oleh Kyai Wahab, namun kegiatan halal bi halal sendiri dimulai sejak jaman kerajaan di Jawa. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara 1  (1757 – 1795 ) menyelenggarakan pertemuan dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana, setelah Idul Fitri. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.

Dalam mencetuskan istilah halal bi halal, Kyai Wahab melakukan analisa pertama terhadap kalimat Thalabu halaal bi thariiqin halaal yang artinya mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan mengampuni kesalahan. Selanjutnya analisis kedua (halaal Yujza’u” bi halaal) adalah pembebasan kesalahan yang berbalas dengan cara saling memanfaatkan.

Istilah yang dicetuskan KH Wahab juga memiliki arti sama jika ditinjau dari sisi bahasa oleh pakar tafsir Al Quran Quraish Shihab. Kata halal diambil dari kata halla atau halala yang bermakna menyelesaikan masalah atau kesulitan, meluruskan benang kusus atau mencairkan kebekuang serta melepaskan ikatan yang membelenggu.

Oleh karena itu halal bi halal dimaknai sebagai bentuk menyambungkan kembali apa yang terputus dan bisa diartikan menyambungkan kembali hubungan antar manusia.

halal bihalal keluarga besar di citra alam

Penting untuk mengetahui asal mula sebuah tradisi jika memang tradisi tersebut baik untuk terus diterapkan dan dilestarikan. Sebab dengan begitu kita bisa menceritakan kepada generasi mendatang agar kelak mereka dapat meneruskannya di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *